Warisan

5 views
negara Indonesia
MEDIA UKHUWAH — Seorang ibu mengeluh: ia mewarisi masa lalu pendidikan yang kelam. Dulu, ia sering mendapatkan makian, bentakan dan pukulan dari ayahnya. Maka kini iapun sering menjadi tak sabaran dengan anak balitanya. 
Ia begitu mudah naik pitam untuk memaki, mendamprat dan mencubit. Ia menangis di depan saya, karena ia tak ingin seperti itu. Ia menyalahkan warisan buruk.
Ah… rupanya ia tak tahu, bahwa masa lalu sebenarnya selalu saja merupakan warisan terbaik dari Allah kepada seorang hamba. Ya, bahkan sebuah masa lalu yang kelam adalah barang tambang luar biasa bagi masa depan. 
Ini hanya soal cara pandang: ingin menatap warisan dengan penuh syukur atau tidak. Seorang ibu yang mewarisi masa lalu sebagai seorang pelacur, justru menjadikan masa lalunya sebagai tekad untuk mendidik dan mengawal ketat pergaulan putri semata wayangnya agar tak terjerumus ke lubang yang sama. Karena ia mensyukuri sebuah warisan, bukan mengutuknya.
Mensyukuri sebuah warisan, itulah kata kuncinya !!! Dan itulah yang membedakan antara dua filsuf : Kierkegaard dengan Feuerbach. Keduanya mewarisi masa lalu yang nyaris sama. 
Namun yang satu mensyukurinya, sedangkan yang lain mengutuknya. Maka, dengan warisan yang sama, yang satu menjadi relijius, sedangkan yang satu lagi berkata : “Tuhan telah mati…”
Itulah sebabnya kenapa saya bangga menjadi Indonesia, Minang dan laki-laki. Menjadi Indonesia, Minang dan laki-laki adalah warisan terberi, karena bukan kehendak saya untuk menjadi ketiganya. Namun, tak ada niat saya untuk lahir kembali sebagai Australia, Aborigin dan perempuan. 
Karena saya yakin : betapa banyaknya orang Australia, Aborigin dan perempuan yang iri akan takdir warisan saya, andai mereka tahu betapa besarnya nikmat Allah atas status primordial saya.
Yang sungguh celaka adalah ketika seseorang tak bangga akan warisannya. Seorang anak yang pada dasarnya adalah ahli waris dari DNA ayahbundanya, tiba-tiba dengan angkuh dan lupa diri berkata: “Aku adalah aku, jangan samakan dengan orangtuaku”. Lalu ia melakukan sesuatu yang dipaksakan untuk berbeda. 
Ia bekerja mati-matian hanya untuk kegagalan. Ia tampaknya lupa, bahwa induk singa hanya akan beranak singa… buah tak mungkin jatuh jauh dari pohonnya… air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua… Sedangkan orang Inggris berkata: “Like father, like son”.
Mungkin kesombongan keparat semacam ini yang membuat bangsa kita tak memiliki mimpi turun-temurun yang diwariskan. Anak tak mau melanjutkan mimpi ayahnya, sedangkan cucu enggan menuntaskan warisan mimpi kakek yang belum selesai. 
Sebuah group perusahaan yang dirintis susah payah oleh sang ayah, tak mau dilanjutkan oleh ketiga anaknya, dengan alasan : aku punya cita-citaku sendiri !!! Menolak warisan adalah kisah kacang yang lupa pada kulitnya.
Wajarlah jika Indonesia tak memiliki THE INDONESIAN DREAM. Karena mimpi sebuah bangsa adalah sebuah mimpi panjang antar generasi. Dan itu hanya akan dimiliki oleh sebuah bangsa yang bangga dengan warisan masa lalu yang akan ia lanjutkan ke masa depan. 
Menangislah wahai Indonesia, karena yang engkau miliki saat ini hanyalah generasi muda cerdas-galau nan sombong, generasi muda individualis yang ingin memutus sejarah dengan warisan primordialnya, sambil mencoba menyangkal pengingkarannya dengan teriakan: Saya Pancasila… Saya Indonesia… 
Betul, tak selalu warisan itu baik, dan kita perlu keluar darinya. Namun, untuk berpindah dari warisan buruk ke masa depan baik, kita perlu banyak berkaca kepada warisan buruk itu, setidaknya sebagai pembanding. Itulah sebabnya betapa banyaknya orang besar yang berangkat dari modal warisan masa lalu yang buruk.
Catatan Ustadz Adriano Rusfi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *