Pengertian, Tata Cara Shalat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

4 views
Pengertian, Tata Cara Shalat Tarawih 11 dan 23 Rakaat
https://pixabay.com

Oleh: Al-Tharyq

Pengertian Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan di malam hari [setelah shalat Isya’] di bulan Ramadhan. Ada sebagian berpendapat bahwa shalat tarawih termasuk shalat qiyamul lail [shalat malam] hanya saja dikhususkan pada bulan Ramadhan saja.

Hukum Shalat Tarawih

Hukum mengerjakan shalat tarawih adalah sunnah, bukan wajib. Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah semasa hidupnya hanya mengerjakan kurang dari tiga kali shalat tarawih saja pada bulan Ramadhan. Namun, demikian para ulama sepakat bahwa dengan hal itulah shalat tarawih dihukumi sunnah.

Hal ini juga sebagaimana dalam hadis Rasulullah, “Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” [HR. Bukhari].

Tarawih Pada Masa Umar bin Khattab

Ibnu Syihab berkata, “Kemudian Rasulullah wafat sedangkan hal itu (shalat tarawih itu) tetap seperti itu. Selanjutnya, hal itu pun tetap begitu pada masa pemerintahan Abu Bakar dan pada masa permulaan pemerintahan Umar.”

Menurut Sayyidina Umar bin Khattab seandainya pun shalat berjamaah tarawih ini merupakan bid’ah, maka ini adalah sebaik-baiknya bid’ah. Memang Rasulullah hanya dua atau tiga kali melaksanakan shalat tarawih kemudian beliau enggan lagi shalat tarawih dikarenan beliau khawatir jika shalat tarawih ini dianggap wajib oleh ummatnya.

Bagi mayoritas ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Hambaliyah, dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa lebih afdhal (utama) shalat tarawih dilaksanakan secara berjamaah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al-Khatthab dan para sahabat. Kaum muslimin pun terus-menerus melakukan shalat tarawih secara berjamaah.

Abdurrahman bin Abd al-Qariy berkata, “Kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca Al-Quran. Umar berkata, ‘Ini adalah sebagus-bagus bid’ah (barang baru).

Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam).’ Yang dimaksudkan olehnya ialah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu mendirikannya pada permulaan malam.” [HR. Bukhari]

Yang perlu diketahui pula bahwa shalat tarawih juga diperuntukkan kepada kaum wanita pula, bukan hanya lelaki saja. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Janganlah kalian menghalang-halangi kaum muslimah untuk mendatangi masjid Allah.”

Waktu Pelaksanaan Shalat Tarawih

Waktu pelaksanaan shalat tarawih ialah antara salat Isya’ sampai sebelum masuk shalat Subuh. Artinya, diantara rentang wantu Isya’ dan Subuh itulah yang disunnahkan untuk shalat tarawih.

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Shalat tarawih bisa dikerjakan dengan jumlah rakaat 8 rakaat [4 salam], atau bisa pula 10 rakaat [5 salam], atau bisa pula sampai 20 rakaat [10 salam]. Dan ditambah shalat witir sebanyak 3 rakaat.

Jumlah rakaat dalam shalat tarawih selalu menjadi perdebatan dikalangan muslim. Namun hal ini sudah semestinya tak menjadi alat untuk membuat permusuhan dan perpecahan. Jangan sampai perbedaan jumlah rakaat membuat sesama kaum muslim terpecah belah. Justru dengan perbedaan itulah seharusnya menjadi ikatan ukhuwah islaimiyah dalam menambah khazanah keilmuan dan kehiudupan.

Shalat tarawih dikerjakan dua rakaat per dua rakaat. Sebagaimana Imam Nawawi menjelaskan dalam bahwa “shalat sunnah malam dan siang itu dua rakaat, dua rakaat, maksudnya bahwa yang lebih afdhal adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua rakaat satu salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari.

Tata Cara Shalat Tarawih

Secara umum gerakan dan bacaan shalat tarawih adalah sama seperti shalat sunnah pada umumnya. Hanya saja yang perlu diperhatikan ialah sebagai berikut:

Pertama, niat shalat Tarawih

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ [مَاءْمُوماً / اِماَمً ] للهِ تَعَالَى

“Saya niat shalat tarawih dua rakaat [sebagai makmum / imam] karena Allah Ta’ala.”

 

Kedua, setelah selesai shalat baik yang 8 rakaat, 10 rakaat, atau yang 20 rakaat. Maka disunnahkan dengan tambahan 3 shalat witir.

Ketiga, dalam shalat witir disunnahkan membaca qunut [biasanya dikerjakan pada tanggal 15 Ramadhan sampai 30 Ramadhan]. Berikut bacaan qunut:

 

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ

[Ya Allah, berilah aku petunjuk pada orang yang telah Engkau beri petunjuk, selamatkanlah aku pada orang yang Engkau selamatkan, kendalikanlah aku pada orang yang telah Engkau kendalikan, berkahilah aku pada apa yang telah Engkau berikan, lindungilah aku dari kejahatan apa yang telah Engkau putuskan, sesungguhnya Engkaulah yang memberikan keputusan, bukan yang diberi keputusan, sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau kasihi, Mahasuci Engkau wahai Rabb kami dan Mahatinggi Engkau. Hamba memohon ampun kepada Engkau dan hamba bertaubat kepada Engkau.]

 

Keempat, setelah selesai keseluruhan shalat, maka membaca dzikir witir yang dianjurkan oleh para ulama. Berikut doa yang dibaca:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ

Kelima, maka dilanjutkan membaca doa tarawih

 

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

[Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban- kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan ketentuan.

Yang bersyukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *