Waktu Pelaksanaan Shalat Istikharah, Manfaat Shalat Istikharah dan Jawaban Shalat Istikharah

86 views
Waktu Pelaksanaan Shalat Istikharah, Manfaat Shalat Istikharah dan Jawaban Shalat Istikharah
https://pixabay.com

Oleh: Al-Tharyq

Shalat Istikharah — Terkadang kita dihadapkan dalam banyak persoalan, banyak pilihan, dan membutuhkan keputusan yang tepat. Manusia bisa saja menganalisa secermat mungkin, tapi bagaimana jika terdapat sesuatu yang belum kita ketahui dibalik analisa itu.

Kita anggap sesuatu baik, tapi kita belum tahu lebih jauh dibalik sesuatu itu nantinya. Kalau dihadapkan pada persoalan seperti ini, maka siapa yang akan dan bisa memberitahu kita bahwa sesuatu itu bisa saja menjadi buruk bagi kita?

Maka jawabannya tidak lain ialah Allah. Allah-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Allah yang bisa memutuskan apa yang terbaik bagi kita, untuk saat ini dan masa depan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah [2]: 216)

Oleh sebab itu, kita, sebagai hamba yang harus selalu ‘berhubungan’ dengan Allah, maka disunnahkan untuk melakukan sholat istikhara.

Secara bahasa, istikhara berarti thalab al-khair (memohon kebaikan) dalam sesuatu. Sedangkan secara istilah dapat dimaknai sebagai permohonan pengarahan angan cita (sharf al-himmah) pada apa yang menjadi pilihan dan terbaik menurut Allah dengan sholat atau doa yang telah ditetapkan.

Dalam pengertian lain, sholat istikhara ialah shalat yang dilakukan seseorang karena kebingungan dalam memilih sesuatu. Shalat ini dilakukan agar Allah memberikan petunjuk sehingga seseorang mempunyai kemantapan hati ada apa yang menjadi kebingungan atau keraguannya.

Jadi, sholat istikhara yakni sholat yang dianjurkan untuk dilakukan ketika seseorang dihadapkan pada persoalan, dengan tujuan meminta petunjuk kepada Allah untuk memantapkan hati dan ‘merestui’ keputusan yang paling baik untuk dirinya. Yang menentukan pilihan disini adalah Allah. Allah-lah yang berwenang menuntun jalan diantara banyak pilihan itu.

Jawaban dalam Istikharah

Lalu, bagaimana cara Allah menuntunnya? Apakah lewat mimpi, atau lewat undian yang kita lakukan, atau lewat pertanda, atau apa? Allah tidak ‘mengirim’ jawaban itu tidak lewat undian, tidak lewat pertanda, dan tidak selalu lewat mimpi.

Tapi Allah mengirim jawaban itu lewat kemantapan hati kita. Hati kita akan ‘dicondongkan’ (‘dimantapkan’) oleh Allah untuk melakukan hal tersebut. Kita akan yakin dalam melakukan apa yang dirasa baik untuk diri, sebab kecondongan hati itu telah diarahkan oleh Allah.

Cara Allah ‘memantap’kan itu tidak berupa perasaan lega dalam hati. Dan tidak berupa rasa mengganjal dalam perasaan. Sebab setelah kita sholat istikhara, banyak orang yang tidak merasa apa-apa.

Allah akan ‘merestui’ kita atas keinginan tersebut dengan cara memudahkan kita dalam suatu tersebut, atau tidak adanya halangan yang menghadang dalam melakukan suatu hal tersebut.

Terkadang kita salah paham tentang sholat istikhara. Selama ini, dianggap sholat istikhara adalah sholat dimana tatkala manusia dihadapi pada dua/banyak pilihan, kemudian kita sholat istikhara, selanjutnya Allah-lah yang akan memilihkan untuk kita di antara dua/banyak pilihan itu. Hal itu angapan yang salah.

Seharusnya, sholat istikhara itu dilakukan untuk memantapkan sesuatu hal yang kita tentukan (niatkan) sendiri.

Bukan Allah yang menentukan pilihan itu, tapi kita yang munculkan keinginan terlebih dulu, kemudian, Allah akan memantapkan keinginan kita jika hal tersebut dinilai baik oleh Allah, dan Allah akan menghalangi kita jika hal tersebut dinilai buruk oleh Allah buat kita.

Sholat istikhara tidak harus dilakukan ketika seseorang menghadapi kebingungan diantara dua/banyak pilihan. Bahkan ketika tidak ada pilihan sekalipun, kita harus tetap beristikhara.

Misalnya, kita ingin mendekati (berta’aruf) dengan seseorang, dan tidak ada pilihan lain, maka kita tetap dianjurkan beristikhara. Dari istikhara itulah Allah akan memantapkan hati kita, apakah lebih baik dilanjutkan atau tidaknya.

Kita tidak harus memilih diantara pilihan itu, kita bisa tidak memilih atau membatalkan semuanya. Tapi, semua itu tetap harus di-istikharah-kan.

Misalnya, kita ingin membatalkan pinangan seseorang, maka keputusan kita untuk membatalkan itu harus di-istikharahi juga. Apakah keputusan kita untuk mengurungkan itu adalah jalan yang baik atau tidak dari Allah.

Ringkasnya, munculkan keinginan dulu, lalu istikhara, selanjutnya Allah akan memudahkan seseorang pada pilihannya.

Ada kalangan yang membolehkan istikhara dengan doa saja dan pelaksanaannya bisa kapanpun. Adapun jika istikhara dengan cara sholat dan doa, maka keempat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) memberikan batasan pada waktu pelaksanaannya dengan mencegah pelaksanaannya di waktu-waktu makruh.

Hukum Melaksanakan Istikharah

Mayoritas ulama mazhab berpendapat bahwa melaksanakan istikaharah hukumnya sunnah. Sebagaimana dalam hadis, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.” [HR. Muslim].

Sementara itu ada ulama yang mengkhususkan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan pada perkara-perkara yang mubah [boleh] saja, bukan pada prkara yang wajib dan sunnah, demikian pula bukan pada perkara yang makruh dan haram.

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.

Ada pula pendapat ulama yang mengatakan bahwa boleh melakukan shalat istikharah berulang kali. Sebab istikharah adalah doa dan tentu saja boleh diulang-ulang.

Sebagaimana dalam salah satu hadis riwayat Imam Muslim, Ibnu Zubair mengatakan “Aku melakukan istikharah kepada Tuhanku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.”

Tatacara Shalat Istikharah

Tatacara Shalat Istikharah
https://pixabay.com

Melakukan shalat istikharah sama saja tatacaranya dengan shalat sunnah pada umumnya. Sholat istikhara dilakukan dalam dua rakaat, hal ini adalah pendapat yang telah disepakati oleh banyak imam, hanya saja dalam kalangan mazhab Syafi’i membolehkan lebih dari dua rakaat, karena mereka menggangap pembatasan dua rakaat tersebut sebagai penjelasan jumlah minimal.

Sholat istikara boleh diulang berkali-kali dan tidak ada batasannya sampai berapa salam. Syarat dan rukun serta gerakannya seperti sholat sunnah lainnya, sedangkan waktunya boleh kapan saja, boleh siang atau malam.

Akan tetapi, bila menginginkan shalat istikhara dnegan lebih khusyuk dan berkesan di dalam hati, dapat memilih waktu pada malam hari, ada anjuran untuk dilakukan pada sepertiga malam.

Niat shalat istikharah ialah:

اُصَلِّى سُنَّـةَ الْاِسْتِخَارَتِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat shalat istikharah dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Surat yang dibaca ketika sholat adalah bebas, terserah orang yang mengerjakan, namun ada anjuran untuk membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama (setelah membaca Al-Fatihah), dan membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua (setelah membaca Al-Fatihah).

Berikut bacaan suratnya:

Surat Al-Fatihah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Surat Al-Kafirun:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Surat Al-Ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Sementara gerakan dan bacaan lainnya sama saja dengan shalat sunnah pada umumnya, terdiri dari rukuk, sujud, tumakninah, i’tidal, tahiyat, dan salam, serta lainnya.

Setelah sholat, kita dianjurkan membaca doa yang dianjurkan oleh Rasulullah. Dan alangkah lebih baiknya jika sebelum berdoa, kita membaca subhanallah wa alhamdulillah wa laailaahaillallah wa allahu akbar, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Kemudian membaca doa ma’tsur yang diajarkan oleh Rasulullah. Berikut adalah doa yang bisa dipanjatkan setelah sholat istikhara.

أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ  (…..)خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ .اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

“Ya Allah, saya meminta pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan saya meminta keputusan dengan keputusan-Mu, dan saya meminta kepada-Mu dengan kurnia-Mu, sesungguhnya Engkau yang memutuskan dan saya tidak mampu memutuskan, dan Engkau Maha tahu sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui yang ghaib.

Ya Allah, jikalah Engkau tahu bahwa urusan ini (…si pemohon menyebut urusannya…) adalah baik bagiku dalam urusan agamaku dan duniaku serta akibatnya bagiku, maka tetapkanlah untukku dan mudahkanlah bagiku, kemudian berilah aku barakah padanya.

Ya Allah, sebaliknya jika Engkau tahu bahwa urusan ini adalah buruk bagiku dalam urusan agamaku dan kehidupanku serta damaknya bagiku, maka palingkanlah aku daripadanya dan tetapkanlah kebaikan bagiku darimana saja berada, kemudian jadikanlah aku ridho terhadapnya.

Khusus doa istikhara untuk tujuan lamaran/pinangan, Rasulullah mengajarkan doa berikut:

أَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ فَـِإِنْ رَاَيْتَ لِى فِى (sebut nama wanitanya……) خَيْرًا لِى فِى دِينِى وَ دُنْيَايَ وَاَخِرَتِي فَاقْدُرْهاَلِى وَإِنْ كاَنَ غَيْرَهاَ خَيْرًا لِى مِنْها فِى دِينِى وَ دُنْيَايَ وَاَخِرَتِى فَاقْضِ لِى بِهاَ

Setelah kita lakukan sholat dan doa istikhara, maka alangkah baiknya kita iringi setelah itu dengan berpikir positif (berbaik sangka) dan berbuat baik agar apa yang kita hajatkan diberikan kebaikan pula.

Dan alangkah baik pula jika ditambah dengan doa-doa yang memantapkan hati, agar selama kita masih dalam permintaan hajat tersebut tidak ada perasaan bimbang atau ragu yang menimpa hati kita.

Sebab jika hati telah bimbang, telah goncang, maka doa lah yang dapat menentramkannya agar kita selalu memusatkan hati agar bertawajuh (berkonsentrasi) kepada Allah. Untuk itu, bacalah doa penentram hati berikut:

يَامُقَلِّبَ الْقُلُوبْ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلىَ ديْنِكَ

“Ya Tuhan yang menguasai (membolak-balikkan) jiwa, mantapkanlah jiwaku dalam agama-Mu”

Ada suatu anggapan bahwa doa shalat istikharah dibaca dalam shalat. Namun, hal itu tidak memiliki dasar yang kuat. Sehingga sebaiknya melakukan doa shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat.

Alasannya adalah sabda Rasulullah. “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdoa.”

Dan yang perlu menjadi catatan ialah bahwa jawaban mengenai shalat istikharah ialah tidak mesti lewat mimpi. Namun Allah akan menjawabnya dengan cara memberikan kemudahan bagi urusanmu dan pilihanmu yang membuatmu bingung.

Allah akan menjawab dengan memuluskan jalan, tidak memberi halangan atas urusanmu itu, dan akan memberikan halangan jika urusan itu tidak cocok denganmu, misalnya dengan menggagalkan rencanamu.

Artinya, melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-orang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.

*Refrensi:
Sanad Ali Al-Baidhani, Cinta Istikhara: Upaya Meraih Kesuksesan dalam Kehidupan (Jakarta: Amzah, 2013)

Galeri untuk Waktu Pelaksanaan Shalat Istikharah, Manfaat Shalat Istikharah dan Jawaban Shalat Istikharah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *