Ayah Bunda, Apakah Rasulullah Tak Lagi Menarik?

3 views

MEDIA UKHUWAH — Hebat di kala belia selalu membuat kagum, terpesona dan iri. Dan itu telah berlangsung sejak dulu. Ada Imam Syafi’i yang sudah jadi mufti saat 10 tahun. 
Ada Muhammad Al-Fatih yang berusia 16 tahun dan menaklukkan Konstantinopel. Kini ada Naufal Si Penemu Listrik Kedondong. Lalu Izzan yang 14 tahun diterima di ITB. Aku bergumam di sebuah sudut bumi: kapan anakku?
Aku membatin dalam hati: “Itu wajar…”. Bukankah anak yang dipakaikan busana orang dewasa akan selalu lucu, menggemaskan dan memesona ? Ya, aku pernah memakaikan cucuku celana formal, baju lengan panjang, rompi dan dasi kupu-kupu. Lalu akupun tak berhenti menatap mengaguminya. 
Pasti kekaguman itu pula yang terjadi andai si kecil telah memiliki atribut orang dewasa. Hmmm… semacam detektif Conan : si cilik berkacamata tebal yang mampu pecahkan segala misteri.
Tapi kagumku segera siuman saat membaca kisah tragis seorang Jet Lee. Pesilat fenomenal itu kini tergolek di atas kursi roda. Ia favoritku, sehingga setiap film-nya wajib kutonton. Wajahnya imut, dan ia telah begitu digdaya, terkenal, kaya dan perkasa saat masih sangat muda. 
Tiga puluh tahun… dan ia telah memiliki segalanya. Sayangnya pencapaian tiga puluh tahun itu tak mampu membeli tiga puluh tahun yang tersisa. Di atas kursi roda, Jet Lee hanya bisa menatap masa depan dengan airmata (tentang Jet Lee, ternyata sekarang sudah tak di kursi roda, walau mengidap komplikasi penyakt)
Ah, kenapa aku lupakan sosok Rasulullah Muhammad SAW. Apakah karena ia belum menjadi siapa-siapa sebelum berusia 40 tahun ? Apakah karena ia baru tampak hebat saat berusia di atas 50 tahun? Ya… ya… seorang Muhammad “hanya” mampu menjadi sosok kontroversial musuh masyarakat saat berusia 40 sd 53 tahun. 
Ia “hanya” orang yang begitu segar-bugar saat berusia 53 tahun, sehingga mampu memimpin perang Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk, Khaibar, Futuh Makkah, atau Hunain. Ia “hanya” leIaki yang di usia 50-an menjadi da’i, hakim, pemimpin dan penglima sekaligus. “hanya” lelaki yang justru mampu menunjukkan keperkasaan seksualnya di usia 50-an.
Aku merenung di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini: kenapa Muhammad SAW tak lagi menarik bagiku? Ia bahkan di mataku telah kalah pamor dibandingkan dua pengikutnya yang lain: Muhammad Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Al-Fatih. 
Ah, jangan-jangan aku telah jatuh matre dan kekinian: bahwa mendidik anak untuk menjadi Muhammad pada usia 40 tahun adalah investasi yang balik modalnya terlalu lama. Ya, aku telah menjadi kapitalis yang ingin meraih capital gain dalam hitungan jam!
Terlalu lama… ya, terlalu lama !!! Itu isi teriakan otak kapitalisku. Meneladani Muhammad SAW berarti mengisi usia 0 sd 15 tahun “hanya” dengan character building. Meneladani Rasulullah SAW berarti memanfaatkann hari-hari 15 sd 40 tahun “hanya” dengan capacity building. 
Menjadi Muhammad berarti memilih untuk tidak ngoyo berburu kehebatan sebelum usia 40 tahun. Menjadi Muhammad berarti mengisi masa muda “hanya” dengan sejuta kebaikan sosial, agar ia dibayar dengan doa-doa tulus untuk kesehatan, kebugaran, keberkahan dan kehebatan masa tua.
Astaghfirullah… Kini aku berusaha siuman sesadar-sadarnya. Kenapa aku tak berikhtiar mendidik generasi peradaban yang hebat saat berusia di atas 40 tahun? 
Maka, saat seorang dokter muda dari Malang mengingatkanku akan Surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang kematangan di usia 40, dan mengajakku untuk mempersiapkan manusia hebat di usia 50-an, aku segera menyambutnya. Aku menawarkan sebuah visi: A Transcend Life for The Future Health. Dan sebuah motto: How about the future…
“Dan sungguh akhir itu lebih baik daripada awal” (QS Adh-Dhuha : 4)
Catatan Ustadz Adriano Rusfi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *